DER Adalah: Rumus, Cara Hitung, dan Interpretasinya

der adalah

DER adalah singkatan dari Debt to Equity Ratio, yaitu rasio keuangan yang membandingkan total utang perusahaan dengan total ekuitas atau modalnya. Angka ini menunjukkan seberapa besar perusahaan mengandalkan utang dibanding modal sendiri untuk membiayai operasional dan asetnya.

Investor dan analis keuangan menggunakan DER sebagai salah satu tolok ukur utama dalam menilai kesehatan keuangan dan tingkat risiko sebuah perusahaan. Rasio ini juga sering disebut sebagai rasio leverage karena menggambarkan sejauh mana perusahaan menggunakan dana pinjaman sebagai pengungkit untuk pertumbuhannya.

Rumus DER dan Cara Menghitungnya

Rumus DER cukup sederhana:

DER = Total Utang (Liabilitas) / Total Ekuitas x 100%

Total utang mencakup seluruh kewajiban yang harus dibayar perusahaan, baik utang jangka pendek maupun jangka panjang, termasuk utang dagang, pinjaman bank, dan obligasi. Total ekuitas adalah keseluruhan modal yang dimiliki perusahaan, termasuk modal disetor dan laba ditahan.

Sebagai contoh praktis: sebuah perusahaan memiliki total utang Rp 500 juta dan total ekuitas Rp 1 miliar. Maka DER-nya adalah 500 juta / 1 miliar x 100% = 50% atau 0,5. Artinya, untuk setiap Rp 1 modal yang dimiliki, perusahaan menanggung utang sebesar Rp 0,50.

Contoh lain: perusahaan dengan utang Rp 800 juta dan ekuitas Rp 500 juta memiliki DER = 160%. Rasio ini sudah melampaui angka 100%, yang artinya utang perusahaan lebih besar dari modalnya sendiri.

Cara Membaca Nilai DER

DER sebesar 1 atau 100% artinya total utang sama dengan total ekuitas perusahaan. Kondisi ini umumnya dianggap sehat karena jika perusahaan gagal membayar utang, ekuitas yang dimiliki masih cukup untuk menutup seluruh kewajiban tersebut.

DER di bawah 1 berarti perusahaan lebih banyak didanai oleh modal sendiri daripada utang. Ini biasanya dipandang positif oleh kreditur karena risiko gagal bayar lebih rendah.

DER di atas 1 bukan otomatis berarti perusahaan dalam masalah.

Banyak perusahaan besar yang sehat secara finansial tetap beroperasi dengan DER di kisaran 1,5 hingga 2. Selama pendapatan cukup untuk membayar cicilan utang dan bunganya, DER tinggi belum tentu berbahaya. Kondisi yang perlu diwaspadai adalah ketika DER terus naik sementara kemampuan menghasilkan pendapatan tidak ikut meningkat.

DER yang Baik Bergantung pada Industri

Tidak ada angka DER yang berlaku universal sebagai “ideal” karena setiap industri memiliki karakteristik struktur modal yang berbeda. Ini serupa dengan cara kita membaca tensi darah, yaitu angka yang normal untuk seseorang bisa menjadi tanda bahaya bagi orang lain tergantung kondisinya.

Industri padat modal seperti konstruksi, manufaktur berat, dan properti cenderung memiliki DER yang lebih tinggi karena membutuhkan investasi awal yang besar dan sebagian besar dibiayai lewat utang. DER 2 sampai 3 di sektor ini masih bisa dianggap wajar.

Sebaliknya, perusahaan teknologi dan jasa yang tidak membutuhkan aset fisik besar biasanya punya DER lebih rendah. DER di atas 1,5 di sektor ini mungkin sudah menjadi sinyal yang perlu diperhatikan.

Untuk sektor perbankan, DER tidak relevan digunakan sebagai ukuran kesehatan karena model bisnis bank memang mengandalkan dana nasabah (yang secara akuntansi dihitung sebagai liabilitas). DER bank bisa mencapai lebih dari 600% dan ini adalah hal yang normal. Menggunakan DER untuk menilai bank ibarat mengukur berat badan dengan termometer, instrumennya tidak tepat untuk tujuan tersebut.

DER dalam Konteks Perpajakan Indonesia

Di Indonesia, DER juga memiliki implikasi pajak yang perlu dipahami pelaku usaha. Berdasarkan PMK Nomor 169/PMK.010/2015, pemerintah menetapkan batas maksimal perbandingan utang dan modal sebesar 4:1 untuk keperluan perhitungan Pajak Penghasilan (PPh) badan.

Artinya, jika DER perusahaan melebihi 4:1, biaya pinjaman (bunga utang) yang bisa dikurangkan sebagai biaya dalam SPT hanya dihitung berdasarkan porsi utang yang sesuai dengan rasio 4:1 tersebut. Kelebihan beban bunga di atas batas itu tidak bisa dijadikan pengurang pajak.

Aturan ini berlaku untuk wajib pajak badan yang bertujuan mencegah praktik penghindaran pajak melalui skema pinjaman antar perusahaan afiliasi yang berlebihan.

Baca juga: Accounts Payable Adalah

Perbedaan DER dan DAR

DER sering dibandingkan dengan DAR (Debt to Asset Ratio), yaitu rasio yang membandingkan total utang dengan total aset perusahaan, bukan dengan ekuitasnya. Perbedaannya cukup mendasar dari sisi apa yang dijadikan pembanding.

DAR menunjukkan berapa persen aset perusahaan yang dibiayai oleh utang. Jika DAR = 0,6, artinya 60% aset perusahaan berasal dari utang. DER sebaliknya melihat perbandingan langsung antara kewajiban dan modal pemilik.

Keduanya digunakan bersama karena masing-masing memberi perspektif berbeda. DAR lebih sering digunakan untuk menganalisis seberapa berisiko struktur aset perusahaan, sementara DER lebih relevan untuk memahami risiko dari sudut pandang pemegang saham dan kreditur.

Cara Investor Menggunakan DER

Dalam analisis fundamental saham, DER menjadi salah satu rasio yang diperiksa pertama kali sebelum mengambil keputusan investasi. Menurut data dari Katadata, rasio DER yang tinggi memberi sinyal bahwa perusahaan menanggung beban bunga yang besar, yang bisa menekan laba bersih dan pada akhirnya mempengaruhi dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham.

Investor defensif biasanya menghindari saham dengan DER sangat tinggi karena risikonya lebih besar jika kondisi ekonomi memburuk dan perusahaan kesulitan membayar utang. Namun investor yang berani mengambil risiko kadang justru mencari perusahaan dengan DER lebih tinggi karena potensi keuntungannya juga lebih besar jika perusahaan berhasil menggunakan utang tersebut secara produktif.

Cara terbaik membaca DER bukan dengan melihatnya sebagai angka tunggal, melainkan membandingkannya dengan: DER perusahaan di tahun-tahun sebelumnya (tren naik atau turun?), DER rata-rata industri di sektor yang sama, dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas untuk membayar kewajiban. DER yang stabil atau turun seiring pertumbuhan ekuitas adalah sinyal yang jauh lebih meyakinkan daripada angka mutlaknya saja.

Scroll to Top